News

Sopir Taksi “Online” Mengantuk, Penumpang Tukar Posisi Jadi Pengemudi

Shutterstock Ilustrasi mengemudi

  • KOMPAS.com – Malam ini jadi pengalaman buruk bagi Irfan dan temannya, Tari. Dari sekian kali naik Grab Car, baru kali ini Irfan terpaksa merebut kemudi dari tangan sopir.

“Ya mau gimana lagi. Simpel, alasan gue demi keselamatan,” kata Irfan pada laman Facebook miliknya, Jumat (30/9/2016)

Irfan bercerita, Grab Car yang dipesan Tari melalui aplikasi online tiba di perkantoran di Palmerah Selatan, Jakarta, pada Kamis malam, pukul 21.43 WIB.

Awalnya bukan cuma dia dan Tari saja yang menumpang mobil Avanza hitam dengan sopir berinisial S tersebut.

“Selain sama Bestari, ada si Mbak dan Rani. Tapi Rani turun duluan di Stasiun Palmerah dan Mbak di Saharjo,” ujarnya.

Setelah dua rekannya turun, lanjut Irfan, pengalaman buruk itu terjadi. Mobil yang dikemudikan S terasa sempoyongan. Pada kondisi ini, Irfan curiga bahwa S mengantuk saat mengantarkan mereka ke Depok.

“Berhubung gue duduk di samping driver, jadi gue tahu persis kalau dia ngantuk. Gue sempat tanya, ‘Lo lagi flu?’. Gue tanya demikian karena gue lihat dia pilek dan batuk, jadi mungkin saja dia enggak ngantuk, tapi meriang,” katanya.

Namun, kecurigaan itu pun terbukti. Tepat di samping Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jalan Raya Pasar Minggu, mobil Avanza yang dikemudikan S menyelonong ke kiri.

“Kecepatan sekitar 60 kilometer per jam, dan mau menghantam Brio yang lagi parkir. Spontan gue dan Tari teriak, ‘Awas!’. Si driver kaget, beruntung mobil bisa dikendalikan,” kata Irfan.

“Eh habis si driver malah ngegerutu menyalahkan mobil Brio yang berenti mendadak tanpa sein kiri. Padahal, menurut hemat gue, mobil Brio itu sudah berhenti jauh sebelum Grab yang gue naikin nyosor,” lanjutnya.

Kejadian berikutnya terjadi di daerah Poltangan, Pasar Minggu. Kali ini S nyaris tertidur sembari mengemudi.

“Posisinya sebelum pintu rel kereta, giliran pengemudi motor yang mau ditabrak. Kali ini gue negur si driver dengan nada keras. Pas gue nengok ke arah dia, ternyata kepala dia sudah tertunduk mirip orang yang ketiduran sambil dengar ceramah,” tutur Irfan.

Irfan meminta menepi dan memaksa S untuk tidak menyetir lagi.

Gue akhirnya pegang kemudi, suruh dia menepi. Sambil setengah membentak gue bilang, ‘Lo sakit? Lo habis minum obat flu?'” ujar Irfan.

“Iya pak, saya pilek, saya minum obat jadi ngantuk. Ngantuknya enggak ketahan pak,” sambungnya meniru jawaban S.

Kelelahan

Irfan merasa empati dengan kondisi S. Spontan kondisi berbali, sopir menjadi penumpang dan penumpang mendadak menjadi sopirnya.

“Ya sudah biar gue aja yang nyetir. Akhirnya gue ambil alih kemudi dan melanjutkan perjalanan ke Depok. Setelah masuk perumahan, gue putuskan untuk antar Tari dulu. Habis itu baru gue balik,” jelasnya.

Irfan mengaku sempat empati, tetapi malah antipati karena si S dianggap terlalu banyak omong. Ini terjadi setelah Tari turun dari Avanza hitam itu.

“Dia sih ngaku sudah dapat 15 trip dalam sehari. Gue bilang ke dia, ‘Ah elah boy, segitunya nyari duit sampai lu enggak merhatiin kondisi badan. Nyari duit yang wajar saja, kejar setoran oke, tapi pikirin juga keselamatan penumpang,” tuntas Irfan.

Kompas.com masih mencoba mengonfirmasi persoalan tersebut ke Grab Car.

Facebook Comments
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

To Top