News

Soal Bukit Duri, Nusron Wahid: Tindakan Ahok untuk Masa Depan Jakarta

Suasana pembongkaran pemukiman penduduk di kawasan Bukit Duri, Jakarta, 28 September 2016. Pembongkaran pemukiman penduduk yang berada di bantaran sungai tersebut merupakan kelanjutan dari proyek normalisasi dan penataan kali Ciliwung.
Suasana pembongkaran pemukiman penduduk di kawasan Bukit Duri, Jakarta, 28 September 2016. Pembongkaran pemukiman penduduk yang berada di bantaran sungai tersebut merupakan kelanjutan dari proyek normalisasi dan penataan kali Ciliwung.

Suasana pembongkaran pemukiman penduduk di kawasan Bukit Duri, Jakarta, 28 September 2016. Pembongkaran pemukiman penduduk yang berada di bantaran sungai tersebut merupakan kelanjutan dari proyek normalisasi dan penataan kali Ciliwung. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta – Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar Nusron Wahid menilai Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah tipikal pemimpin yang tanpa pamrih. Tindakan Ahok sebagai pemimpin didasarkan kepada kebutuhan perbaikan Ibu Kota Jakarta untuk ke depan dan bukan berdasarkan keinginan pribadi.

Hal itu dikatakan Nusron Wahid menanggapi kebijakan relokasi kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Ahok terbukti seorang gubernur yang tanpa pamrih. Buktinya, dia berbuat berdasarkan kebutuhan kekinian. Bukan keinginan. Dia memikirkan kondisi makro dan jangka panjang Jakarta, tanpa pernah berpikir tentang popularitas dan elektabilitas dirinya menjelang pemilihan gubernur,” kata Nusron di Jakarta, Kamis (29/9).

Dikatakan, jika seorang pemimpin mengedepankan sikap menjaga citra maka setiap melakukan sesuatu selalu melihat faktor popularitas. Dia mencontohkan, seorang pemimpin yang menjelang pemilu tidak berani menaikkan harga BBM.

“Padahal, itu kebutuhan fiskal untuk menyehatkan perekonomian. Namun, nyatanya, rata-rata pejabat takut dengan kebijakan yang tidak populis meski itu merupakan kebutuhan. Ahok memang lain. Kalau memang benar dan on the track dia lakukan. Tidak peduli dengan politisasi lawan politiknya,” kata dia.

Nusron mengatakan, setiap tokoh atau pemimpin memang mempunyai gaya masing-masing. Ada yang seminaris, fashionis (mengutamakan penampilan, Red), dan ada juga yang action. Ahok, kata Nusron, masuk kategori pemimpin action untuk mengejar legacy.

“Setiap pemimpin ada masa dan gayanya. Sebaliknya, setiap masa ada pemimpinnya. Saya yakin model kepemimpinan aksi nyata yang dilakukan oleh Ahok yang dibutuhkan masyarakat Jakarta saat ini. Untuk menyelesaikan masalah akut yang kompleks di Jakarta ini dibutuhkan pemimpin yang proper, proven, dan delivered, seperti yang sudah dilakukan Ahok,” ujarnya.

Menyelesaikan masalah Jakarta, kata Nusron, tidak sekadar dibutuhkan jargon indah dan susunan mutiara kata yang filosofis. Apalagi, dengan penampilan yang sekadar ganteng. “Jakarta butuh kerja nyata, meski tidak popular, ketimbang sok populis, tetapi tidak delivered dan masalah tidak teratasi,” tegasnya.

Jadi, menurut Nusron, upaya berbagai relokasi kampung kumuh di tanah milik publik, seperti Kalijodo, Luar Batang, Rawajati, Kampung Pulo, dan yang terakhir Bukit Duri, merupakan langkah solutif yang harus dilakukan demi menyelamatkan rakyat yang lebih luas.

Atas upaya itu, kata dia, seharusnya semua pihak justru wajib membantu memberikan pengertian kepada warga yang tinggal di tanah negara yang tidak seharusnya dijadikan pemukiman. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini, dapat menciptakan banjir. “Kalau banjir, ya, kita semua yang repot. Ini yang harus disadarkan. Bukan malah dijadikan komoditas politik,” kata Nusron

Facebook Comments
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

To Top