News

Ahok: Gubernur DKI Sesungguhnya itu Baru akan Berakhir Oktober 2019

detik

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memberikan pengarahan kepada para kontraktor dan pejabat pengadaan barang Pemprov DKI. Dalam kesempatan itu, Ahok juga bercanda soal jabatannya, menurut Ahok Gubernur DKI yang sesungguhnya adalah Jokowi sedangkan dia hanya penerus saja.

“Bagaimana permainan pengadaan barang di pemerintahan, saya tahu semua. Apalagi saya pernah jadi anak angkat bupati (Belitung), saya juga pernah di DPRD (Belitung Timur). Jadi saya tahu semuanya,” kata Ahok.

Arahan Ahok ini diberikan kepada para kontraktor dan pengusaha pengadaan barang di BUMN, BUMD, swasta dan penyedia betok precast di Ruang Balai Agung, Gedung Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016).

Ditegaskan Ahok, tidak boleh ada lagi permainan anggaran dan pengadaan barang di DKI. Ahok tak menampik jika selama 2-3 tahun ini masih ada permaian, namun dia sengaja masih menahan diri untuk mempelajari dan menyiapkan ‘perangkat’ untuk oknum yang bermain.

“Saya mau tegaskan, di Jakarta tidak ada lagi kesempatan kalau masih berfikir mau main. Memang 2-3 tahun ini masih main, enggak apa-apa. Saya orangnya sabar kok, Sabar banget. Saya tungguin, saya ingin tahu mainnya sampai di mana. Saya tungguin, saya ingin tahu mainnya sampai di mana. Saya tungguin saja polanya seperti apa. Saya dapat, saya simpan, nanti baru dipotong. Saya pikir Jakarta sudah tidak bisa untuk main-main lagi,” tegas Ahok.

Apalagi, lanjut Ahok, setiap transaksi pengadaan barang di Pemprov DKI dilakukan secara non tunai. Sehingga mudah untuk dilacak dan diaudit. Ahok menegaskan tidak boleh ada lagi yang ‘bermain-main’ dengan anggaran dan pengadaan barang.

“Setiap uang yang dibayar ke bapak dan Ibu, kami berhak meminta bukti transaksinya yang di rekening bapak ibu,” katanya.

Ahok juga mengaku banyak mendapat ‘curahan hati’ dari para kontraktor, jika banyak oknum Pemprov DKI yang memeras dan melakukan mark up anggaran. Dia pun lebih memilih untuk tidak membangun daripada anggarannya dikorupsi.

“Banyak kontraktor yang tidak mau jadi kontraktor kami, karena apa? Karena pusing. Makanya pembelian tanah kami pun kacau. Saya juga sering digertak, ini sekolah sudah mau ambruk, harus dibangun, direhab. Saya memiih tidak bangun daripada dibangun macam-macam,” katanya.

“Dulu terlalu banyak mark up, pencurian barang. Sekarang enggak ada kata rehab lagi, pusing, bongkar habis maunya. Permaina rehab di DKI itu kacau juga,” tambahnya.

Ahok juga menambahkan, dirinya tahu kondisi ini karena dia pernah menjadi pengusaha. Untuk itu, selama dia masih menjadi Gubernur DKI, dia akan tetap melakukan pengawasan ketat di Pemprov DKI. Dia pun tak takut jika harus lengser.

“Saya masih di sini sampai Oktober 2017. Gubernur yang asli itu sesungguhnya masih selesai Oktober 2019, yaitu Pak Jokowi. Saya hanya penerusnya. Gubernur yang sesungguhnya itu Pak Jokowi,” kata Ahok.

“Jadi, jangan berfikir pola lama. Kalau (Jokowi) terpiih lagi 2019, dan saya yakin suasananya lain lagi. Saya kenal beliau dengan baik. Saya ini hanya kelihatan keras dari luar, tapi kalau beliau itu juga keras, kalau sudah putus A, ya A, kalau enggak sikat,” tambah Ahok.
(rjo/rvk)

Facebook Comments
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

To Top